0020-Istri Mempunyai Hasil Sendiri, Bolehkah Bersodaqoh Tampa Izin Suami

Pertanyaan dari Saudara Iena Ediy Irawan @ sebagai berikut :

Assalamualaikum. sy mau tanya lg ne. ada sepasang suami istri. c suami punya perkerjaan sendiri. c istri pun punya pekerjaan sendiri. pertanyaan saya. gmn hukumnya seorang istri menghabiskan uang sendiri. uang dkasih ama org tuanya di kasih ama saudaranya tanpa memberi tau kpd suami. kan uang tersebut hasil tenaga sendiri bukan dikasih oleh suami. apakah istri trsbt brdosa krn tdk minta izin dulu pada suami.

 

Jawaban :

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Menurut kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan pendapat terkuat dikalangan Hanabilah, wanita yang telah dewasa dan pintar diperbolehkan mengelola hartanya sendiri meskipun tanpa izin suaminya dan tidak dibatasi jumlah maksimalnya.

Menurut pendapat kalangan Malikiyyah bila melebihi sepertiga hartanya harus disertai izin suaminya.

REFERENSI :

979- قال بن جريج وأخبرني الحسن بن مسلم عن طاوس عن بن عباس رضي الله عنهما قال ثم شهدت الفطر مع النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان رضي الله عنهم يصلونها قبل الخطبة ثم يخطب بعد خرج النبي صلى الله عليه وسلم كأني أنظر إليه حين يجلس بيده ثم أقبل يشقهم حتى جاء النساء معه بلال فقال {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ} الآية ثم قال حين فرغ منها آنتن على ذلك قالت امرأة واحدة منهن لم يجبه غيرها نعم لا يدري حسن من هي قال فتصدقن فبسط بلال ثوبه ثم قال هلم لكن فداء أبي وأمي فيلقين الفتخ والخواتيم في ثوب بلال قال عبد الرزاق الفتخ الخواتيم العظام كانت في الجاهلية……..وفي هذا الحديث من الفوائد أيضا استحباب وعظ النساء وتعليمهن أحكام الإسلام وتذكيرهن بما يجب عليهن، ويستحب حثهن على الصدقة وتخصيصهن بذلك في مجلس منفرد، ومحل ذلك كله إذا أمن الفتنة والمفسدة. وفيه خروج النساء إلى المصلى كما سيأتي في الباب الذي بعده. وفيه جواز التفدية بالأب والأم، وملاطفة العامل على الصدقة بمن يدفعها إليه. واستدل به على جواز صدقة المرأة من مالها من غير توقف على إذن زوجها أو على مقدار معين من مالها كالثلث خلافا لبعض المالكية

Berkata Ibn Juraij, berceritera padaku al-Hasan Bin Muslim dari Thowus dari Ibnu Abbas berkata, “Aku menghadiri shalat Idul Fitri bersama Nabi, Abu Bakar,Umar, dan Utsman, semuanya mengerjakan shalat sebelum berkhotbah. Nabi keluar (lalu turun 6/62) seakan-akan aku masih melihat beliau ketika menyuruh orang banyak duduk dengan mengisyaratkan tangannya. Kemudian menghadapi mereka dan membelah barisan kaum lelaki (dan ini dilakukan sehabis berkhotbah). Sehingga, beliau mendatangi kaum wanita bersama Bilal, lalu beliau mengucapkan, ‘Yaa ayyuhan nabiyyu idzaa jaaakalmu’minaatu yubbaayi’naka [‘alaa an laa yusyrikna billaahi syaian wa laa yasriqna wa laa yazniina wa laa yaqtulna aulaadahunna wa laa ya’tiina bi buhtaanin yaftariinahu baina aidiihinna wa arjulihinna]’ ‘Hai Nabi, jika kamu didatangi oleh kaum wanita hendak mengadakan bai’at atau berjanji setia kepadamu (untuk tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka, dan tidak membuat-buat tuduhan perzinaan kepada orang lain dengantuduhan palsu.’ Hingga selesai membaca ayat itu semuanya. Kemudian beliau bersabda setelah membaca ayat tersebut, ‘Hai kaum wanita, apakah Anda sekalian seperti itu?’Seorang wanita di kalangan mereka menjawab, dan tiada seorang pun dari kaumwanita itu yang menjawab selainnya. Ia berkata, ‘Benar wahai Rasulullah.’ Al-Hasan(yang meriwayatkan hadits itu) tidak mengetahui siapa wanita yang menjawab itu. Nabibersabda lagi, ‘Kalau begitu, maka bersedekahlah kalian!’ Kemudian Bilal membeberkan pakaiannya, lalu dia berkata, ‘Marilah, Anda sekalian adalah penebus ayahku dan ibuku.’Kemudian orang-orang wanita itu meletakkan cincin besar-besar dari emas(yang biasa dipakai pada zaman jahiliah dulu), juga meletakkan cincin ukuran biasa di atas pakaian Bilal itu.”

PELAJARAN PENTING DARI HADITS INI

  1. Anjuran menasehati dan mendidik kaum wanita tentang hukum-hukum Islam serta mengingatkan apa yang diwajibkan pada mereka
  2. Anjuran memberi dorongan pada mereka untuk gemar bersedekah serta mengkhusukan mereka dalam suatu majlis bila memang dirasa aman dari fitnah dan kerusakan
  3. Bolehnya mereka keluar ditempat shalat (keterangan lengkapnya akan datang)
  4. Bolehnya membuat tebusan untuk ayah dan ibu serta berfaedahnya perbuatan baik atas orang yang ia tebusi
  5. Diperbolehkannya pemberian sedekah oleh wanita dari harta pribadinya tanpa seizin suaminya atau dalam batasan pemberian yang ditentukan maksimalnya, berbeda menurut kalangan Malikiyyah yang membatasi jumlah maksimalnya asalkan tidak melebihi sepertiga dari harta wanita tersebut.

Fath al-Baari II/468

___________________

‎>>وفي هذا الحديث جواز صدقة المرأة من مالها بغير اذن زوجها ولا يتوقف ذلك على ثلث مالها هذا مذهبنا ومذهب الجمهور وقال مالك لا يجوز الزيادة على ثلث مالها الا برضاء زوجها ودليلنا من الحديث أن النبي صلى الله عليه و سلم لم يسألهن استأذن أزواجهن في ذلك أم لا وهل هو خارج من الثلث أم لا

Dalam hadits ini terdapat dalil akan diperbolehkannya pemberian sedekah oleh wanita dari harta pribadinya tanpa perlu izin suaminya dan dalam batasan pemberian yang ditentukan maksimalnya sepertiga hartanya, ini madzhab kami (Syafi’iyyah) serta mayoritas Ulama.Berkata Imam Malik “Tidak diperbolehkan melebihi sepertiga dari hartanya kecuali atas izin suaminya, dengan sandaran dalil kami pada hadits nabi saat menanyai kaum wanita “Atas izin suaminya atau tidak ?”“Melebihi sepertiga hartanya atau tidak”.

Syarh an-Nawaawy ala Muslim VI/173

____________________

وقال الجمهور (الحنفية والشافعية والحنابلة في الراجح عندهم) (2) :للمرأة الرشيدة التصرف في مالها كله بالتبرع والمعاوضة، لقوله تعالى: {فإن آنستم منهم رشداً، فادفعوا إليهم أموالهم} [النساء:6/4] وهو ظاهر في فك الحجر عنهم، وإطلاقهم في التصرف. وثبت أن النبي صلّى الله عليه وسلم قال: « يا معشر النساء ! تصدقن، ولو من حُليِّكن…» (3) ،

Berkata Mayoritas ulama (kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan pendapat terkuat dikalangan Hanabilah) “Bagi wanita yang dewasa dan pintar berhak mentasharrufkan (menguasai dan mengelola) semua hartanya baik untuk mengharap ganjaran dari Allah ataupun untuk berbisnis berdasarkan firman Allah “Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya” (QS. 4:6) dalil ini secara dzahirnya melepas pengekangan penguasaan harta atas mereka dan memberikan hak sepenuhnya pada mereka.

Dan telah terdapati hadits nabi “Wahai para wanita… !! Bersedekahlah kalian meskipun dengan perhiasan-perhiasan kalian………”

Al-Fiqh al-Islaam VI/319

_________________

فصل : وظاهر كلام الخرقي أن للمرأة الرشيدة التصرف في مالها كله بالتبرع والمعاوضة وهذا إحدى الروايتين عن أحمد وهو مذهب أبي حنيفة و الشافعي و ابن المنذر وعن أحمد رواية أرخى ليس لها أن تتصرف في مالها بزيادة على الثلث بغير عوض إلا بإذن زوجها وبه قال مالك

PASAL

Melihat dhahirnya pernyataan al-Khoroqy diperbolehkan bagi wanita dewasa yang pintar mengelola seluruh hartanya untuk kebaikan (yang mengharan pahala dari Allah) dan berbisnis, dan ini adalah salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad Bin Hanbal.Demikian pendapat Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Ibn al-Mundzir, dipendapat Ahmad Bin hanbal terdapat riwayat lain yakni tidak diperbolehkan mereka mengelola hartanya melebihi sepertiga dari hartanya tanpa adanya pengganti kecuali seizin suaminya, dan ini juga pendapat Imam Malik.

Al-Mughni IV/560

 

Wallaahu A’lamu Bis Showaab

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Nikah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s